Salah satu mimpi terburuk dalam hubungan adalah ketika si dia—dengan atau tanpa alasan yang jelas—mencampakkan kita begitu saja. Menyakitkan? Tentu saja. Rasanya seperti di lempar ke jurang yang paling dalam. Berita baiknya, kita bisa bangkit—better, even happier. Dan kali ini blackboxtix.com akan menguraikan caranya….

“Setiap kita butuh kebutuhan yang paling mendasar untuk dicintai. Secara rasional, kita tahu bahwa kita mengakhiri hubungan ketika chemistry-nya tidak lagi ada—terlepas dari si dia ganteng, punya selera humor yang baik atau punya karier yang menjanjikan,” jelas Claudia Hammond, psikolog sekaligus penulis Emotional Rollercoaster: A Journey Through The Science of Feelings. “Akan tetapi saat itu terjadi pada diri kita, secara otomatis kita menganggap bahwa ada yang salah dengan diri kita,” tambahnya.

Saat dicampakkan secara sepihak, kita akan melewati beberapa tahapan emosi, mulai dari syok, penyangkalan, panik, merasa terbuang, marah, merasa bersalah, sampai depresi. “Urutan naik-turun emosi ini tentu saja tidak terjadi secara kronologis, semua bisa melompat keluar berdasarkan pemicunya. Misalnya, kita jadi pemarah dan tidak sabar terhadap rekan kerja—itu adalah ciri-ciri kemarahan yang selama ini tidak tersalurkan,” ujar Christine Webber, psikoterapis dan penulis How To Mend A Broken Heart.

The Art of (Not) Letting Go

Coba jujur, paska putus sudah berapa kali kita menjadi ‘detektif dadakan’? Mengecek Facebook, akun twitter atau secara khusus meng-google namanya untuk mencari tahu tentang kegiatan si dia belakangan. Menakutkan, but we just can’t stop it, right? “Saat kita baru dicampakkan dari suatu hubungan, maka otak kita akan terpicu untuk berperilaku obsesif,” ujar Claudia Hammond. Penjelasannya, serotonin atau ‘senyawa yang membat kita bahagia’ berada di titik rendah sehingga ketika kita dicampakkan, perilaku kita berubah menjadi obsesif. Hal ini diakui oleh Tina, 27, brand analiyst yang mengaku selalu mengecek semua akun media mantan pacar… bahkan berusaha membajak email si mantan tersebut.

Kemampuan kita untuk move on, ternyata juga sangat bergantung pada pengalaman masa kecil. Hammond menambahkan, apabila kita berasal dari keluarga broken home—atau kehilangan peran ayah dalam pertumbuhan masa kecil, sifat obsesif—atau keinginan untuk memiliki kembali ini bisa saja berarti emosional, dan tidak ada hubugannya dengan perasaan kita terhadap si dia. Kok bisa? “Hubungan yang kita jalani itu seringkali merupakan refleksi dari ‘penderitaan’ masa kanak-kanak yang tidak terselesaikan. Kita butuh merasa ‘bertahan’ atau ‘memenangkan’ kembali sesuatu,” jelasnya.

Badai Pasti Berlalu?“Sayangnya, tidak ada ilmu yang pasti tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk bisa merasa baik kembali paska putus hubungan. Tergantung adakan kedalaman, intensitas hubungan, lingkaran pertemanan—dan lain sebagainya. Hal paling mungkin yang bisa dikerjakan adalah ‘memerangi’ perasaan merana tersebut,” saran Hammond. “Salah satunya dengan berolahraga. Seberapa pun kita merasa sengsara, endorfin yang kita hasilkan setelah berolahraga akan membuat pikiran kita menjadi tajam, mood membaik—dan tentu saja tampilan (paska putus) yang lebih seksi.”

Hal lain yang bisa dijadikan terapi adalah dengan menuliskan beberapa hal atau kebiasaannya yang membuat kita sering naik pitam—namun (seringnya) kita tahan. Mulai dari lupa hari-hari spesial, hobi melirik kiri-kanan sampai hasrat berprestasi dia yang rendah (nggak heran kalau dia lama mendapat promosi jabatan!). Apabila hubungan sudah terlanjur intim, Webber melarang satu hal besar yang akan membuat kita merasa menyesal keesokan harinya. Yes, do not have sex with him—again! “Banyak pria yang paska putus, ‘seakan bingung’’ dan butuh bicara’, padahal sebenarnya dia sedang horny. Sang wanita akan berpikir bahwa si pria menyesal dan menginginkannya kembali, sementara sang pria akan mengatakan apa saja untuk mendapatkan tujuannya.” He may think he’s confused, but he’s confused with lust.

Saat berhubungan intim, wanita mengeluarkan sepuluh kali lebih banyak oxytocin (yang bertanggungjawab terhadap ‘bonding’ kira dengan si dia) ketimbang kaum pria. Kita butuh kerja keras lagi, mengulangi hal-hal yang selama ini telah kita lakukan untuk mengesampingkan dia dari pikiran kita.

Cara lainnya? Bicarakan hal ini terus menerus dengan sahabat-sahabat kita (Yes, sampai mereka bosan atau mulai tidak mengangkat telepon kita). Tulis di blog, selembar kertas, apa saja—sampai kita merasa bosan dan merasa ‘cukup’ dengan semua itu—dan siap melangkah kembali.